Download Ringkasan Desertasi .PDF

Oleh: Bertolomeus Bolong

Bartolomeus Bolong, S. Ag., M. Si., (44 tahun) mengatakan, tingkat kemiskinan umat Khatolik di Kabupaten Ende masih tinggi. Untuk tiap wilayah, tingkat kemiskinannya rata-rata 21% s/d 25. Tingkat kemiskinan ini hampir sama dengan tingkat kemiskinan masyarakat Kabupaten Gunung Kidul (25,4 %), yang penduduknya sebagian besar sebagai penganut agama Islam. Padahal di Ende ada program pembebasan kaum miskin yang merupakan misi keagamaan Gereja Katolik Keuskupan Agung. Di Gunung Kidul juga ada misi keagamaan untuk membebaskan kaum miskin yang dijalankan Muhammadiyah. Sementara dari hasil wawancara dengan masyarakat Katolik di Ende dan Masyarakat Islam di Gunung Kidul, diperoleh jawaban bahwa mereka belum merasa diberdayakan untuk terlepas dari kemiskinan, dengan adanya misi pembebasan yang dilakukan Keuskupan Agung dan Muhammadiyah. Hasil survei ini menunjukkan, meskipun misi kesejahteraan umat bukan hanya merupakan tanggungjawab agama, data kemiskinan yang selalu naik menunjukkan bahwa usaha agama-agama dalam mensejahterakan umatnya belum berhasil

Hal tersebut disampaikan Dosen Seminari Tinggi OCD- Yogyakarta, yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Studi Masyarakat Multikultural Yogyakarta ini, saat memperesentasikan disertasinya untuk memperoleh gelar Doktor Bidang Ilmu Agama Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, bertempat di Ruang Promosi kampus setempat, Jum’at, 4 Desember 2009. Disertasi berjudul “Misi Keagamaan Dalam Pembebasan Kaum Miskin Pada Islam Muhammadiyah Kabupaten Gunung Kidul Dan Gereja Katolik Keuskupan Agung Ende”, dipertahankan di hadapan Promotor Prof. Dr. Burhanuddin Daya dan Dr. Al. Purwa Hadiwardoyo, MSF, serta Tim Penguji antara lain: Prof. Dr. H. Siswanto Masruri, MA., Prof. Dr. H. Muhajir Darwin, Prof. Dr. Banawiratma, Prof. Dr. H. Abdul Munir Mulkhan, SU. Sidang promosi dipimpin Prof. Dr , H,.M. Amin Abdullah, dengan sekretaris Dr. Sukamto, MA.

Lebih lanjut putra kelahiran Warukia ini menjelaskan, untuk memperoleh kesimpulan di atas, pihaknya melakukan penelitian disertasi lapangan dengan menggunakan metode survey pendekatan fenomenologi. Menurut promovendus, kalau misi keagamaan untuk membebaskan kaum miskin sudah dianggap tidak berhasil, harusnya ada paradigma baru misi keagamaan sebagai pedoman institusi keagamaan dalam mengentaskan masyarakat terbebas dari belenggu kemiskinan.

Menurut promovendus, paradigma yang perlu di bangun institusi keagamaan dalam upaya membebaskan masyarakat dari belenggu kemiskinan antara lain : Paradigma transformatif, dengan memberantas penindasan terhadap orang-orang kecil dan miskin, mengubah sikap dan perilaku masyarakat untuk menghargai orang kecil dan miskin, serta melakukan pembaharuan kehidupan kaum miskin dengan menumbuhkan semangat, cita-cita, perjuangan untuk bekerja keras dan saling membantu. Paradigma keterlibatan, dengan berpihak kepada orang-orang miskin, berjuang bersama mereka, menanggung resiko bersama mereka, dan mengajak mereka bangkit bersama. Paradigma Inklusif, dengan melayani semua masyarakat, lintas agama, lintas budaya dan lintas suku, dengan kesadaran penuh bahwa semua adalah satu (bangsa Indonesia ). Paradigma

kebhinekaan dengan kesadaran gagasan dasarnya adalah kesatuan dalam kebinekaan dan keanekaragaman dalam kesatuan. Paradigma dialogis, dengan membangun rasa setia kawan bersama orang-orang miskin, ambil bagian dalam kehidupan dan perjuangan mereka. Paradogma holistik, dengan memberdayakan masyarakat secara seimbang antara kebutuhan jasmani dan rohaninya, pemenuhan kebutuhan material dan spiritual, individu dan sosial, kesemestaan dan kekekalan, dunia dan akherat, serta membangun masyarakat dalam seluruh aspeknya (ekonomi, pendidikan, politik, budaya, dan agama). Paradigma terpadu, yakni perjuangan demi iman dan kesejahteraan masyarakat, tegaknya keadilan yang tercakup dalam satu kesatuan. Keterpaduan antara kasih tanpa pamruh, kasih yang mengampuni, keterpaduan antara penghayatan iman dan tindakan iman. Juga program dan kebijakan yang berkesunambunga, bukan pada saat-saat yang darurat. Sehingga perlu memiliki master plan program misi terpadu, dengan bidang ekonomi umat sebagai pusat kegiatan yang harus disusun secara sermat, demikian jelas promovendus.

Oleh tim penguji, promovendus dinyatakan lulus dengan predikat ’sangat memuaskan,’ dan dirinya merupakan doktor ke 238 yang telah berhasil diluluskan Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga.