MISI AGAMA UNTUK PEMBEBASAN KAUM MISKIN BELUM BERHASIL
Oleh: Bertolomeus Bolong
Bertolomeus Bolong, S. Ag., M. Si., (44 tahun) mengatakan, tingkat kemiskinan umat Khatolik di Kabupaten Ende masih tinggi. Untuk tiap wilayah, tingkat kemiskinannya rata-rata 21% s/d 25. Tingkat kemiskinan ini hampir sama dengan tingkat kemiskinan masyarakat Kabupaten Gunung Kidul (25,4 %), yang penduduknya sebagian besar sebagai penganut agama Islam. Padahal di Ende ada program pembebasan kaum miskin yang merupakan misi keagamaan Gereja Katolik Keuskupan Agung. Di Gunung Kidul juga ada misi keagamaan untuk membebaskan kaum miskin yang dijalankan Muhammadiyah. Sementara dari hasil wawancara dengan masyarakat Katolik di Ende dan Masyarakat Islam di Gunung Kidul, diperoleh jawaban bahwa mereka belum merasa diberdayakan untuk terlepas dari kemiskinan, dengan adanya misi pembebasan yang dilakukan Keuskupan Agung dan Muhammadiyah. Hasil survei ini menunjukkan, meskipun misi kesejahteraan umat bukan hanya merupakan tanggungjawab agama, data kemiskinan yang selalu naik menunjukkan bahwa usaha agama-agama dalam mensejahterakan umatnya belum berhasil.
Pidato Penerimaan Gelar Doktor Kehormatan KH. Sahal Mahfudz
Posted Jum, 27/06/2003 – 07:49 by syarikat
Sebagai bagian masyarakat yang memiliki titel kesarjanaan tertinggi, para doktor dituntut berperan aktif menyumbangkan ilmu pengetahuannya, sehingga kehadiranya di tengah-tengah masyarakat benar-benar dirasakan manfaatnya. Akan tetapi sebagai individu yang menyandang gelar akademik tertinggi, para doktor secara moral dituntut mempertanggungjawabkan gelar prestigious di hadapan dirinya sendiri, di samping sudah barang tentu, dihadapan Allah. Sejauh mana kontribusi kita terhadap perkembangan ilmu pengetahuaan, serta sejauh mana komitmen kita terhadap kebenaran ilmu pengetahuan yang kita miliki? Inilah pertanyaan yang selalu menghantui saya sesaat setelah diberitahu akan dipromosikan untuk mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa.
Sebagai orang yang sehari-hari hidup di tengah masyarakat, saya telah berbuat sesuatu yang berkenaan dengan pengembangan masyarakat pedesaan baik menyangkut pendidikan, ekonomi kerakyatan, kesehatan dan lainnya, meskipun mungkin masih jauh dari target ideal. Beberapa gagasan pemikiran yang selama ini saya munculkan, selalu saya kemas dengan bahasa sederhana, sesuai dengan target utama audiens. Itulah karenanya, gelar doktor yang diberikan kepada saya saat ini, meskipun dipermukaan terlihat sebagai suatu penghormatan, pada hakekatnya merupakan tambahan beban sekaligus amanat yang diberikan oleh masyarakat akademik untuk dijaga sebaik-baiknya. Dengan gelar ini berarti saya harus mempertahankan dan mengingatkan citra keilmuan di tengah masyarakat akademik, sementara pada saat yang sama saya harus tinggal di “habitat” masyarakat awam.