Pusat Studi Islam UII

Advertisement
You are here: Home arrow Home arrow DAKWAH TERUS BERKEMBANG DAN MELUAS
DAKWAH TERUS BERKEMBANG DAN MELUAS

Dorong Revolusi Kehidupan Masyarakat

Image 

http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=216614&actmenu=36

YOGYA  (KR) - Kedatangan Islam di Indonesia telah mendorong terjadinya revolusi besar dalam tata kehidupan masyarakat. Hal itu dikarenakan hampir semua aspek tata kehidupan diubah menjadi aturan-aturan yang berdasarkan kaidah secara berimbang. Baik yang sesuai dengan keharusan atau menurut hakekatnya.
“Fenomena pluralitas yang dimiliki bangsa Indonesia pada satu dimensi telah mencerminkan pola kehidupan harmonis dan elegan. Pola kehidupan ini menampilkan konstruksi sosial-budaya yang dapat berdampingan dan tidak saling berbenturan,” kata Prof Dr M Abdul Karim MA dalam acara diskusi ‘Seri Kaji Buku Studi Islam Nusantara ke-4 yang diselenggarakan  Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia (UII) dan Program Pasca Sarjana FIAI UII di ruang sidang kampus setempat, Senin (24/5).

 Dokumentasi Kaji Buku Islam Nusantara
Fotografer: Franz Boedi Sukarnanto 
Selain Prof Dr M Abdul Karim dalam kesempatan tersebut panitia juga menghadirkan pembicara Wakil Pemimpin Redaksi (Wapemred) KR, Drs Ahmad Lutfie MA.
 Abdul Karim menyatakan, dakwah Islamiah terus berkembang dan meluas. Untuk menjaga kelangsungan dari dakwah tersebut dibutuhkan pengkaderan beberapa mubaligh muda. Salah satu caranya dengan mengajari mereka tentang ilmu agama dan membekali dengan sejarah Perjuangan Nabi. Tentunya semua itu bisa dilakukan secara optimal apabila semua pihak terlibat aktif.
Komentar serupa  diungkapkan oleh Drs Ahmad Lutfie. Menurutnya, Islam di Nusantara mempunyai aspek sangat luas. Tidak mengherankan apabila wajah Islam di Indonesia cukup beragam. Sebab meski banyak yang akomodatif, tetapi ada juga yang eksklusif. (Ria)-b
 
< Prev   Next >

Kolom Kang Toha

Pembelajaran HAM dan Syari’ah pada Perguruan Tinggi Agama Islam

Image    Pada era modern sekarang ini, terbentuknya negara adalah sebuah keniscayaan yang semata-mata didasarkan atas perspektif humanisme. Bagi bangsa Indonesia penegasan hal ini tercantum secara eksplisit pada alinea pertama Pembukaan UUD 1945, bahwa adanya Negara Kesatuan Republik Indonesia ialah karena “kemerdekaan adalah hak segala bangsa sehingga penjajahan yang bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan harus diahpuskan”. Ini adalah postulat harga mati yang harus diterima dan diimplementasikan oleh seluruh bangsa Indonesia tanpa reserve. Artinya, postulat ini jika kita analisis secara teoritis, maka kehidupan komunal baik dalam bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara seharusnya tidak merefleksikan eksploitasi sesama manusia melainkan harus berperikemanusiaan dan berperikeadilan. Inilah sebenarnya teori legitimasi yang paling mendasar dari bangsa Indonesia dalam masalah kehidupan bernegara.
Read more...
 

Jepretan

Polling Minggu Ini

Setuju atau tidakkah anda pemberlakuan RUU yang menampung pasal tentang nikah sirri dan nikah mut'ah
 

Statistik

Visitors: 237020
We have 7 guests online

Community Development

Pranala
Pranala Luar

Risalah Demangan

CATATAN DAN TEMUAN PENTING PROGRAM GENDER EQUALITY
Oleh: Edy Safitri

ImageProgram Gender Equality yang berlangsung tiga tahun ini, bukanlah tanpa catatan, baik pada level institusi, mitra maupun pada level komunitas. Program ini melibatkan banyak elemen; Kelompok Kajian Keagamaan di lima agama, Kantor Urusan Agama (KUA), DPRD DIY, Departemen Agama (Depag), Kantor Pemberdayaan Perempuan (KPP) sekarang berubah menjadi Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM), sejumlah NGO yang fokus pada isu-isu perempuan, Ormas keagamaan  dan Masyarakat Umum.

Banyaknya elemen yang terlibat ini, realisasinya pun tidak luput dari kendala-kendala. Misalnya saja dalam penentuan keterwakilan tokoh agama perempuan yang akan menjadi Community Organizer (CO) ataupun narasumber. Ternyata tidak mudah mencari tokoh agama perempuan, terutama untuk Buddha, Hindu dan Katolik. Dari sini saja bisa disimpulkan, indikasi ketidakadilan jender bukan saja berlangsung di masyarakat luas, tetapi juga dalam lembaga-lembaga agama. Menurut peneliti,  perlu menjadi bahan refleksi untuk ditindaklanjuti tentang peranan perempuan di dalam lembaga-lembaga agama. Ini sekadar contoh dari kendala (yang) secara teknis dihadapi.
Read more...
 
Pranala Dalam