Pusat Studi Islam UII

Advertisement
You are here: Home arrow Home arrow Kajian Islam Harus Bermanfaat Luas
Kajian Islam Harus Bermanfaat Luas
berita-nasional
Rabu, 04 November 2009 pukul 13:18:00

Rahmat Santosa Basarah
http://www.republika.co.id/koran/14/86945/Kajian_Islam_Harus_Bermanfaat_Luas
ImageIslam harus bisa menjadi payung bagi semua kalangan.

SURAKARTA -- Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali berharap kajian keislaman tak hanya meningkatkan pemahaman pada objek kajian, yaitu Islam. Ia juga berharap, kajian juga dilakukan untuk menggali nilai Islam dalam upaya meneguhkan kepribadian Muslim.

Menurut Suryadharma, hal ini penting dilakukan oleh Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) yang selama ini melakukan kajian keislaman. Sebab, kini umat Islam harus berhadapan dengan beragam keyakinan, ideologi, aliran, dan gaya hidup baru yang ada di tengah masyarakat. Suryadharma yang berbicara dalam pembukaan Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) ke-9 di Surakarta, Senin malam (2/11), mengatakan, jumlah PTAI dengan pakar di bidang keislaman yang mencapai ratusan merupakan potensi luar biasa.

Dengan demikian, jelas Suryadharma, PTAI bisa mewujud menjadi pusat pengembangan dan kajian ilmu keislaman di Indonesia. ''Dibandingkan lembaga lain, PTAI memiliki infrastruktur memadai untuk menjadi garda terdepan dalam pengembangan ilmu keislaman,'' katanya.

Apalagi, PTAI tak memiliki beban sejarah atau kaitan ideologis dengan seseorang atau tokoh, organisasi, atau lembaga mana pun. Suryadharma juga mengatakan, kebebasan dalam melakukan pengkajian dan keterbukaan terhadap temuan baru tak lepas dari kerja akademik.

Jadi, harus diingat pula bahwa kebebasan itu dibatasi oleh tanggung jawab. Dalam hal tersebut, jelas Suryadharma, PTAI memiliki tanggung jawab besar terhadap umat Islam di negeri ini ketika melakukan pengkajian tentang Islam.

''Kita perlu menyadari, klaim besar Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin masih jauh dari kenyataan. Kalaupun suatu saat Islam bisa mendominasi peradaban dunia, perlu diingat Islam harus bisa menjadi payung bagi semua kalangan dan agama,'' kata Suryadharma.

Hal itu, jelas Suryadharma, merupakan tanggung jawab umat yang mayoritas. Ia menegaskan, misi Islam sebagai agama  rahmatan lil alamin bisa menjadi kenyataan ketika agama dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh manusia dan lingkungannya.

Suryadharma mengatakan, potensi besar PTAI sebagai pusat kajian keislaman di Indonesia seharusnya diselaraskan dengan misi itu. Kepala Badan Litbang dan Diklat Depag, Atho Mudzhar, mengatakan, kajian Islam juga telah dilakukan di Barat. Bahkan, mereka telah menerapkan sejumlah metodologi.

Di antaranya, metodologi polemik, sejarah, kebahasaan, perbandingan agama, arkeologi, dan ilmu sosial.  Pada abad ke-20, kata Atho, studi Islam di Barat bahkan telah berkembang menjadi sebuah disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Biasanya disebut dengan orientalisme.ed: ferry
 
< Prev   Next >

Kolom Kang Toha

Pembelajaran HAM dan Syari’ah pada Perguruan Tinggi Agama Islam

Image    Pada era modern sekarang ini, terbentuknya negara adalah sebuah keniscayaan yang semata-mata didasarkan atas perspektif humanisme. Bagi bangsa Indonesia penegasan hal ini tercantum secara eksplisit pada alinea pertama Pembukaan UUD 1945, bahwa adanya Negara Kesatuan Republik Indonesia ialah karena “kemerdekaan adalah hak segala bangsa sehingga penjajahan yang bertentangan dengan perikemanusiaan dan perikeadilan harus diahpuskan”. Ini adalah postulat harga mati yang harus diterima dan diimplementasikan oleh seluruh bangsa Indonesia tanpa reserve. Artinya, postulat ini jika kita analisis secara teoritis, maka kehidupan komunal baik dalam bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara seharusnya tidak merefleksikan eksploitasi sesama manusia melainkan harus berperikemanusiaan dan berperikeadilan. Inilah sebenarnya teori legitimasi yang paling mendasar dari bangsa Indonesia dalam masalah kehidupan bernegara.
Read more...
 

Jepretan

Polling Minggu Ini

Setuju atau tidakkah anda pemberlakuan RUU yang menampung pasal tentang nikah sirri dan nikah mut'ah
 

Statistik

Visitors: 231076
We have 19 guests online

Community Development

Pranala
Pranala Luar

Risalah Demangan

Mengkaji Buku
Oleh: Imam Samroni

ImageTulisan ini merupakan catatan pribadi terhadap dua kali penyelenggaraan Seri Kaji Buku Studi Islam Nusantara, kerjasama PSI UII dengan MSI UII. Sebagai catatan pribadi, penulis lebih mengapresiasi suasana hati seputar gagasan awal penyelenggaraan program. Jadi,tulisan berikut tidak berniat untuk mengevaluasi dari tatakelola dan kinerja keberhasilan program.

Kajian pertama, Rabu, 10 Maret 2010, adalah buku “Kata Serapan Bahasa Arab dalam Serat Centhini: Kajian Morfosemantis” (Yogyakarta, Safiria Insania Press, 2010) yang merupakan disertasi Dr. Junanah, MIS. Bertindak sebagai pengkaji adalah GKR Wandansari, Pengageng Sasono Wilopo Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yang juga anggota Komisi II DPR RI. Kajian yang kedua, Kamis, 18 Maret 2010, adalah buku “Yurisprudensi Peradilan Agama (Studi Pemikiran Hukum Islam di Lingkungan Pengadilan Agama se-Jawa Tengah dan Pengadilan Tinggi Agama Semarang, 1991-1997)” (Jakarta, Badan Litbang & Diklat Departemen Agama RI, 2006) yang merupakan disertasi Prof. Dr. H. Amir Mu’allim, M.A. Pengkajinya adalah Drs. H. Chatib Rasyid, S.H., M.H., Ketua Pengadilan Tinggi Agama Semarang.
Read more...
 
Pranala Dalam