Pusat Studi Islam UII

Advertisement
You are here: Home arrow Home arrow Hangatnya Kebersamaan di Warak Kidul
Hangatnya Kebersamaan di Warak Kidul
berita-nasional
Selasa, 29 September 2009 | 14:28 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/29/14281358/hangatnya.kebersamaan.di.warak.kidul
ImageDinginnya pagi masih menggigit, namun ratusan orang telah duduk di atas gelaran tikar memanjang di salah satu gang di Dusun Warak Kidul, Sumberadi, Mlati, Sleman. Tua-muda, lelaki-perempuan, asyik berbincang ditemani teh hangat dan kudapan.

Hari itu, warga tengah menjalani tradisi tahunan yang diadakan setiap Idul Fitri: silaturahmi. Silaturahmi adalah hal biasa. Namun, hadirnya seluruh warga dusun berjumlah sekitar 800 orang yang berbeda agama dan keyakinan menjadikannya istimewa. Terlebih pemrakarsa silaturahmi seorang Katolik, yang merupakan pemeluk mayoritas dusun itu. Seusai shalat Id di lapangan sepak bola, seluruh warga, Muslim, Katolik, maupun pemeluk agama lainnya, langsung berkumpul di gang tersebut.

"Tidak ada kewajiban untuk datang, tetapi seluruh warga sudah mengerti dan pasti hadir dalam acara silaturahmi ini," ujar Kepala Dusun Warak Kidul Parlam, saat Lebaran lalu.

Pengurus dusun sekadar mengingatkan acara itu melalui pengeras suara mushala pada malam sebelum dan setelah shalat Id.

Kehangatan dan keakraban antarwarga terjalin kuat dalam acara yang berlangsung sekitar satu jam itu. Tidak terlihat ada perbedaan satu sama lain. Yang terlihat hanya kebersamaan dan keakraban antarsesama manusia.

Setelah penyampaian berbagai sambutan dari kepala dusun dan tokoh masyarakat, acara puncak sekaligus penutupan dilakukan: bersalam-salaman. Seluruh warga berbaris di sepanjang gang sejauh sekitar 300 meter.

Rangkaian panjang saling menyalami itu dimulai dari warga yang berdiri paling ujung hingga ke warga di ujung satunya. Dipastikan tidak ada warga yang terlewat disalami warga lainnya. Ucapan sugeng riyadi (selamat hari raya) mengiringi acara.

Beberapa kali rangkaian salaman sempat terhenti karena 1-2 warga asyik berbincang dan menghambat antrean. "Nanti disambung di rumah ya, sambil nyicipin ketupat Lebaran," kata seorang ibu kepada seorang ibu lainnya menyudahi obrolan mereka.

"Salaman dhisik, nek crita mengko wae (salaman dulu, ceritanya nanti saja)," canda salah seorang warga yang berada di belakang si ibu disambut tawa warga lainnya.

Agustinus (40), warga Katolik Warak Kidul, mengaku tidak pernah melewatkan silaturahmi tahunan itu karena merasa perlu. "Namanya hidup di kampung, pasti ada "gesekan-gesekan" dengan antarwarga. Acara ini bisa jadi melumerkan "gesekan-gesekan" itu karena seluruh warga pasti bertemu," tuturnya.

Dargono, salah seorang pemuka Katolik Warak Kidul, mengatakan, acara silaturahmi ini berlangsung sejak empat tahun terakhir. "Awalnya hanya di tingkat RT, namun terus berkembang jadi seluruh dusun," katanya.

Peran warga Katolik dalam acara itu menyiapkan makan dan menjaga parkir dan keamanan saat warga Muslim melaksanakan shalat Id. "Hal sebaliknya juga dilakukan warga Muslim saat warga Katolik merayakan Paskah dan Natal," ujarnya.

Lebaran kali ini, satu warga menyumbang Rp 2.500 untuk dibelikan makanan ringan saat silaturahmi. Tiga tahun sebelumnya, warga langsung membawa berbagai jenis makanan untuk dimakan bersama-sama.

Pemuka Islam Warak Kidul, Basuki, mengemukakan, saling berkunjung ke rumah warga yang berbeda agama saat hari raya menjadi hal yang lumrah di Warak Kidul. "Waktu warga Katolik membangun Gereja, saya juga datang ikut mendoakan," kata Basuki. (ENG)
 
< Prev   Next >

Kolom Kang Toha

ImageDoa Malaikat Jibril
Ya Allah tolong abaikan ummat Nabi Muhammad SAW apabila sebelum memasuki Ramadhan dia belum:
1. Memohon maaf kepada kedua Orang Tua (jika masih ada).
2. Bermaaf-maafan antar suami istri
3. bermaaf-maafan dengan orang lain disekitarnya
kemudian Rosulallah mengaminkannya 3 kali.
Read more...
 

Jepretan

Polling Minggu Ini

Setuju atau tidakkah anda pemberlakuan RUU yang menampung pasal tentang nikah sirri dan nikah mut'ah
 

Statistik

Visitors: 231105
We have 46 guests online

Community Development

Pranala
Pranala Luar

Risalah Demangan

TAFSIR TEMATIS KRONOLOGIS KONTEKSTUAL
Oleh: Yusdani

ImagePendahuluan
Adalah suatu aksioma modernisme Islam bahwa perlu dilakukan rekonstruksi total atas warisan kesejarahan kaum muslim. Timbulnya gagasan semacam ini tentu berkaitan dengan ketidakmampuan warisan kesejarahan kaum muslim masa lalu dalam menghadapi tuntutan dan tantangan masa kini. Akan tetapi rekonstruksi total yang dikehendaki itu haruslah bertitik-tolak dari Alquran sebagai kriterium.  Dengan kata lain, dalam menghadapi tantangan dunia kontemporer masa kini dan untuk meraih masa depan dan kejayaan Islam, Alquran haruslah menjadi pedoman bagi kaum muslim dalam hidup dan kehidupan mereka.

Read more...
 
Pranala Dalam