HAM dan Syariah | Artikel Gender Agama-agama | |
|
download makalah diskusi gender agama islam PEMAHAMAN SIKAP ADIL GENDER DALAM ISLAM Oleh: Trias Setyawati Pemahaman ajaran tekstual Islam dalam masyarakat masih sangat terbatas. Sedang dari sisi perilaku, banyak umat Islam yang menjalankan ajaran Islam sebagai sesuatu yang bersifat pribadi, tidak ada pengaruhnya secara sosial dalam masyarakat. Hal seperti ini mungkin juga akan sama ketika kita membahas tentang masalah gender.
Dalam Muhammadiyah misal;nya, sudah banyak sekali pembahasan mengenai peran wanita, kemajuan perempuan, kesejahteraan keluarga. Tetapio ketika muncul wacana untuk menjadikan perempuan sebagai pemimpin dalam tubuh PP Muhammadiyah, hal itu menjadi permasalahan yang sangat serius dibahas sampai tingkat muktamar.Sementara dalam kelompok wanita sendiri sebenarnya ada dua kubu, pertama; ada perempuan yang ingin berbicara dengan jelas menunjukkan jati dirinya. Dan kedua, ada kelompok perempuan yang tidak ingin menunjukkan dirinya. Dalam konteks keluarga, dalam masyarakat kita, secara tekstual, sebenarnya tidak ada kebijakan-kebijakan (policy) yang menghambat kemajuan perempuan. Di kalangan umat Islam kita, wanita yang sudah maju justru mengalami kesulitan ketika ingin mencari pasangan hidup. Orang masih banyak berpola pikir laki-laki seharusnya maskulin dsan perempuan seharusnya feminim. Pandangan seperti ini tidaklah selamanya benar dan diperlukan adanya usaha untuk mentranformasikan diri dan sosial untuk merubah pemahaman seperti ini. Dalam rumahtangga muslim, pemahaman seperti ini tampaknya merupakan akibat dari adanya nasehat perkawinan yang terlalu tekstual, padahal dalam realitas permasalahan yang seringkali terjadi dalam keluarga tidaklah sesederhana seperti yang dikontektualkan itu. Dalam pengalaman saya, kekerasan itu justru sudah diajarkan sejak dari rumah. Misalnya kekeliruan pemahaman orangtua tentang anak yang baik itu yang bagaimana. Menerut orangtua, anak yang baiak adalah anak yang ketika belajar dia duduk, tidak kemana-mana. Hal seperti itu jika tidak dilakukan oleh si anak maka dia dicubit, dimarahi dan sebagainya. Dari hal ini terlihat bahwa kekerasan merupakan hal yang sudah diajarkan sejak dini dari rumah. Peranan orangtua di Indonesia terlaludominan dan otoriter. Orangtua sering kali menuntut, menghukum anak. Orangtua belum mempunyai sikap adil terhadap anak. Dan hal ini merupakan kenyataan di banyak keluarga Indonesia yang kabanyakan muslim. Kekerasan terhadap anak secara psikologis, fisik, ekonomi banyak sekali terjadi dalam masyarakat Indonesia. Kesadaran untuk mengambil keputusan yang adil gender dalam keluarga adalah hal yang tidak mudah. Namun ada hal yang perlu diperhatikan tentang sikap adil gender terhadap anak. Tidak selamanya keluarga muda yang menerapkan demokratisasi dalam setiap aspek terhadap anak dapat dibenarkan. Dalam hal-hal tertentu, seperti aqidah, kepercayaan, seharusnya anak mendapat penekanan dari orangtua. Karena dalam beberapa aspek, anak belum mampu diberi kebebasan untuk diserahi tanggungjawab untuk mengambil keputusan sendiri. Dalam kasus-kasus tertentu ini diperlukan indoktrinasi dari orangtua. Setelah selesai dipaparkan penjelasan tentang permasalahan gender dalam keluarga, forum dilanjutkan dengan diskusi. Pertnyaan pertama diajukan oleh Ibu Rita; "Dalam penjelasan Ibu tadi, kekerasan memang sudah muncul dari rumah. Kira-kira apa yang melatarbelakangi para ibu dalam rumahtangga itu sehingga mereka terlalu memaksakan kepada anak, apakah karen afaktor pendidikan, budaya, ataukah karena kesombongan individu orangtua atau pemahaman keagamaan atau karena faktor lain?" Pertanyaan ini dijawab olah Ibu Trias Setyawati; Nilai-nilai yang dianut dalam maswyarakat seperti anak yang ideal, orangtua yang ideal itu belum berubah. Untuk mentranformasikan pemahaman seperti itu bukanlah suatu hal yang mudah. Untuk merubah mainset itu diperlukan kesadaran dari orangtua. Orangtua harus harus bisa membangun kesadaran untuk lebih bisa menghargai, termasuk juga kepada anak. Salah satu bentuk kesadaran itu adalah untuk mengakui keterbatasan dan kekurang pengetahuan orangtua. Sebenarnya orangtua itu juga tahu bahwa mereka harus egaliter, tetapi ketika situasi tidak memungkinkan (misalkan banyak tagihan yang harus dibayar) seringkali orangtua akan sangat otoriter dan bisa memicu kekerasan." Bapak Edi S. mengajukan pertanyaan; "Gerakan kesejajaran gender di Barat dan di Indonesia, menghasilkan output yang berbeda. Di Indonesia gerakan ini bersinggungan dengan budaya yang memang sejak awal lebih bermuatan bias gender. Dari faktor-faktor yang mempengaruhi kemunculan bias gender dalam keluarga, unsur yang paling dominan mempengaruhi kemunculan hal itu dimana? Dari banyak faktor itu kita harus mulai darimana untuk mengurangi bias gender ini? Ketika terjadi bias gender, apakah pengaruh pemahaman agama juga berpengaruh?'. Dijawab oleh Bapak Trias Setyawati; "Perempuan dalam keluarga, terdapat tiga pilihan; menjadi superwoman, wanita yang melakukan sosialisasi di rumah dengan anggota keluarga dengan mengurangi kadar idealitas perempuan secara tradisional, perempuan yang di kantor dan di rumah susah. Dari ketiga pilihan perempuan itu, kelompok yang paling banyak adalah kelompok yang ketiga. Sedangkan kelompok yang pertama, yaitu superwoman, sangat sedikit dan banyak yang tidak berhasil. Sedangkan DBKS (Dewan Binaan Keluarga Sakinah), program ini mengikuti trend Amerika, yaitu womanhood. Di Indonesia, jika dipaparkan perempuan itu seharusnya begini, laki-laki begini, akan menimbulkan pertentangan. Tetapi kalau dikatakan masyarakat yang ideal harus begini, anak-anak yang ideal harus begini, perempuan harus begini, ibunya begini, maka hal itu bisa diterapkan. Berbicara mengenai relasi dalam keluarga berarti berbicara mengenai bagaimana membentuk generasi yang lebih baik dan dalam konteks masyarakat yang lebih seimbang. Faktor yang dominan mempengaruhi terjadinya bias gender adalah mainset yang sudah masuk dalam norma-norma dan prinsip-prinsip dasar seseorang. Konstruksi berpikir itu tidak hanya berasal dari pemahaman keagamaan saja. Jadi untuk mengurangi bias gender tidak cukup hanya dengan ilmu pengetahuan saja, tetapi juga dengan mulai membangun kesadaran supaya transformasi bisa cepat terlaksana. Lebih bagus lagi apabila ada khasanah intelektual dan ada model pemberdayaan perjuangan kesejajaran gender." Lebih lanjut, Bapak Edi S. menanyakan; Apakah mainset yang terbangun dalam keluarga dapat diubah, ketika ada dua keluarga berbeda yang bersosialisasi?" Dijawab oleh Ibu trias S.; "Kuncinya adalah di komunikasi, namun masyarakat kita miskin komunikasi. Ketika terjadi upaya untuk merubah mainset, biasanya orang akan menanggapi dengan kebencian. Proses perubahan ini akan berhasil jika akhirnya orang berubah menjadi senang dengan cara baru yang kita bawa dan bisa menggunakan cara baru tersebut." Diskusi dilanjutkan dengan pertanyaan dari Fauzi; "Jika dikuantifikasi, relevansi pengaruih doktrin ajaran agama untuk sampai membentuk mainset itu bagaimana?". Jawab Ibu Trias S.; "Prosedur itu harus dilalui, yaitu mendengar, berdiskusi dan mendapatkan contoh, jadi perlu waktu yang banyak." Bapak Imama bertanya: Proses belajar dalam keluarga, dalam pengalaman Bu Tris, lebih efektif yang mengedepankan komunikasi ataukah yang dipaksakan, karena konon katanya, orang Jawa kalau sudah dipaksa maka tidak mau belajar?" Pertnyaan ini dijawab oleh Ibu Tris dengan tegas; Sepertti yang sudah dikatakan, dimulai dengan benci dan diakhiri dengan cinta dan rasa senang. Untuk kultur jawa memang diperlukan semacam paksaan dulu baru mereka dapat memahami. Kembali ke permasalahan dalam keluarga, adakalanya anak belum mampu untuk diberi kebebasan pendapat sehingga perlu diberi mentoring, terutama dalam bidang ideologisasi. Jadi meskipun anak itu perlu diberi demokratisasi, tetapi tidak di semua bidang." |
|
| < Prev | Next > |
|---|
|
Doa Malaikat JibrilYa Allah tolong abaikan ummat Nabi Muhammad SAW apabila sebelum memasuki Ramadhan dia belum: 1. Memohon maaf kepada kedua Orang Tua (jika masih ada). 2. Bermaaf-maafan antar suami istri 3. bermaaf-maafan dengan orang lain disekitarnya kemudian Rosulallah mengaminkannya 3 kali. |
|
| Read more... |
| Pranala |
|
TUJUH LAPIS MEMBACA Oleh: Adib Susila ![]() Pengertian “membaca,” sebenarnya bertingkat-tingkat atau berlapis-lapis. Paling tidak ada tujuh tingkat kemampuan seseorang dikala membaca. |
|
| Read more... |